Right Time, Place and People

Finally I reach Makassar...
Weew.. setelah 9 hari kembali ke Dunia Nyata ( maksudnya komunikasi dengan orang-orang terkasih tidak hanya melalui telpon dan internet). Meski bagi orang-orang dirumah yang sempat ngomel2, masa 9 hari itu dianggap pendek, setidaknya dibandingkan dengan masa cuti kerja Mbak Ana dan Mbak Dwi yang mencapai 5 Minggu.
Tapi waktu yang pendek itu bukan berarti nothing to do, justru, dalam waktu pendek, banyak momen-momen yang membahagiakan yang mungkin kalau ditulis ndak akan ada abisnya.
Hal yang paling membahagiakan adalah menyangkut urusan masa depan dengan Mas Yudis. hal yang tak terduga, ternyata keluarga begitu seriusnya membahas ini, dan bener-bener kaget, karena awalnya hanya akan dilaksanakan secara sederhana. Hari ketiga di Jogja bener-bener membuatku terharu (mpe meneteskan air mata), ternyata keluarga mas Yudis, diluar Bapak, dan adik2 Mas Yudis begitu welcome, keluargaku juga begitu, whaaa... serasa punya ratusan sodara yang nyambung semua kalau diajak ngomong. Sisi lain yang juga membahagiakan adalah ketika acara 'pertemuan keluarga' berlangsung, yang ngacarani adalah Mbah yang dulu mengajariku mengaji waktu kecil, di adalah kakek, bapak sekaligus guru yang sangat aku hormati, beliau juga memberi wejangan yang sesekali membuat orang tergelak... t
Tapi legaaaaa.... sejauh ini perencanaan dan persiapan sesuai jalurnya.. tinggal tunggu waktu.

Momen membahagiakan lainnya adalah kepulanganku bersamaan dengan kepulangan Mbak Ana, Mbak Dwi dan Joshua kecil. Akhirnya setelah 10 tahunan berpisah dengan Mbak Ana dan Mbak Dwi, bertemu kembali, bertepatan dengan momen pernikahan Mas Put. Walau pertalian darah sangat sedikit, mereka berdua menganggap aku adik, atau tepatnya pengganti adiknya, yang kalau tetap hidup seumuran denganku. Kedekatan kami di masa kecil membuat prinsip-prinsip hidup yang dianut dan keputusan-keputusan dalam hidup mempunyai kemiripan (hanya satu yang mereka lakukan tetapi tidak aku lakukan yaitu keluar dari PNS dan memilih hijrah ke negeri orang :) ).
Kemandirian mereka memang patut diacungi jempol, ketepatan dalam mengambil keputusan juga termasuk keputusan untuk menikah... weks... ya ini yang sempet menjadi pembahasan. Mereka dulu memutuskan untuk menikah saat seumuran denganku, ketika semua urusan menyangkut materi tak lgi tergantung pada orang tua. Memang agak nggak nyaman juga ketika ditanya sana-sini dan mendapat label "pratu".. tapi sapa peduli, pernyataan atau pertanyaan yang paling tepat dalam situasi ini adalah "emang napa, mau ngasih makan aku, suami dan anakku po?"(whahaha.. senjata paling ampuh sejauh ini...)

hemm.. klop deh kalau dah gini, Tuhan telah mengatur momen-momen dalam kehidupan manusia dengan begiitu sempurnanya, Dia tahu Waktu yang tepat, Tempat yang tepat dan situasi yang tepat diantara orang-0rang yang tepat.. its very nice...

hem.. dah ah.. hari dah terang, rasanya celotehan pagi ini dah cukup, semoga moment indah, walau sesaat mampu memberikan semangat baru, dihari yang baru, dan dalam pengharapan baru.. Amin.

Andai Kartini Tidak Pernah Menulis

Berbicara tentang Kartini, hari Kartini yang kita peringati setiap tanggal 21 April dan emansipasi seolah telah menjadi rangkaian yang tak terpisahkan bak untaian mutiara yang dibuat oleh maestro yang bercitarasa seni tinggi. Hampir semua orang dinegeri ini mengenang Kartini sebagai orang yang mampu mendobrak kungkungan adat yang menempatkan perempuan sebagai kaum yang berada dalam bayangan keterbelakangan akibat keterbatasan akses pergaulan, pendidikan dan kesempatan untuk berkontribusi dalam berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saat ini untuk menghormati seorang wanita bangsawan yang ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional, setiap tanggal lahirnya sebagai hari Kartini, hari dimana tokoh yang dianggap sebagai orang yang memelopori emansipasi bagi kaumnya di bumi Indonesia ini selalu diwarnai dengan upacara yang menempatkan wanita-wanita sebagai tokoh utama dalam kegiatan kehidupan. Dalam acara berita di televisi misalnya, pasangan pembawa berita dua orang wanita (biasanya berita dibawakan oleh laki-laki dan wanita), dalam acara dokumenter yang siaran pada tanggal 21 april mengulas wanita- wanita yang mampu meraih kedudukan seperti pria, misalnya bupati, perwira polisi, wanita kenamaan yang berkiprah di dewan/ majelis perwakilan rakyat, sampai tokoh wanita kebanyakan yang dianggap melakoni peran yang pada umunya dilakoni oleh kaum adam. Yang tak kalah serunya adalah hampir disetiap sekolah seringkali diadakan upacara yang semua petugas upacaranya adalah wanita dan berpakaian adat asli Indonesia. Euforia kebebasan dan persamaan hak bagi kaum hawa di tanggal 21 April ini kemudian juga dihiasi dengan ulasan-ulasan aktivis perempuan yang dengan berapi-api mendengungkan persamaan hak antara laki-laki dan wanita dalam segala bidang, yang tak jarang istilah ”persamaan hak” itu disadari atau tidak menjurus kepada dekadensi moral akibat pengartian persamaan hak dalam porsi yang berlebihan.

Kalau setiap tanggal 21 April disetiap tahun yang kita lewati hanya diwarnai dengan kegiatan-kegitan yang seperti diatas, bisa jadi esensi dari perjuangan Kartini yang sebenarnya akan luntur bahkan hilang, dan peringatan yang dilakukan tak ubahnya sebuah seremonial yang dilakukan setiap setahun sekali.

Sebagai generasi yang hidup dimasa kini, tak ada salahnya kita memperingati Hari kartini dengan cara yang berbeda. Dengan segenap wawasan dan realita sejarah yang ada kita bisa menggali esensi yang sesungguhnya dari perjuangan Kartini.

Dalam Artikel ini saya sengaja menghadirkan tajuk ” Kalau Saja Kartini Tidak Pernah Menulis”. Saya ingin menekankan bahwa esensi dari perjuangan kartini adalah kemampuannya dalam menuangkan ide-idenya lewat tulisan.

Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa era saat kartini hidup adalah era dimana wanita yang dianggap sudah dewasa harus berada di dunia yang dibatasi oleh tembok rumah. Kartini muda yang berbekal pendidikan ELS (Europese Lagere School) yang membuatnya mampu berbahasa Belanda menjadi modal penting dalam upaya mengemukakan pikiran-pikirannya. Bahasa Belanda yang dipelajari membuatnya mampu membaca surat kabar berbahasa belanda, majalah wanita belanda, dan sampai akhirnya kartini menulis untuk majalah tersebut De Hollandsche Lelie. Menjalani kehidupan dengan adat yang tidak memungkinkan dirinya lepas dari kungkungan adat yang kental disatu sisi dan keinginan untuk maju bukan berarti harus dianggap sebagai sebuah pertentangan batin dan Kartini membuktikan itu semua. Kepatuhan akan adat dan kesetiaan atas kodratnya sebagai wanita dalam budaya yang kental berjalan seiring dengan keinginan untuk maju dan memajukan kaum yang senasib dengan dirinya yang justru terwujud ketika Kartini telah kembali keharibaan Ilahi.

Perasaan ’iri’ terhadap kemajuan-kemajuan yang dimiliki oleh kaum wanita di Negeri Belanda seperti yang dituturkan sahabat-sahabat pena Kartini membangkitkan pemikiran-pemikiran brilian menyangkut banyak hal yang kesemuanya menyangkut Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). Kartini menuliskan setiap pemikirannya dalam bentuk surat dan dikirimkan kepada sahabat-sahabatnya, RM Abendanon dan Estelle “Stella” Zeehandelaar. Hasil hasil pemikiran Kartini tak melulu hanya masalah emansipasi dan keluhan-keluhannya terhadap adat jawa yang dianggap sebagai penghambat kemajuan kaum wanita pada waktu itu. Kartini juga mempunyai perhatian terhadap masalah lain seperti agama, sosial, budaya, bahkan korupsi tetapi publik saat ini lebih banyak menekankan bahwa perjuangan kartini adalah tonggak adanya persamaan hak dan kedudukan antara kaum wanita dan pria dan mungkin inilah yang menjadi pembeda cita-cita Kartini dan perjuangan wanita sekarang dalam menuntut persamaan hak antara pria dan wanita. Kartini memilih menulis dan menulis untuk mengekspresikan pikiran-pikirannya sementara wanita sekarang lebih banyak menuntut berkoar-koar atas nama emansipasi yang justru menjadikan emansipasi tersebut sebagai ”emansipasi tanpa esensi” atau mungkin emansipasi ala barbie, emansipasi yang hanya ditujukan untuk memperoleh popularitas dengan menganggap apapun bisa dilakukan dan kodrat sebagai wanita dengan segala kemuliaan yang telah diberikan Tuhan dinomorsekiankan.

Ya.. Mengekspresikan pemikiran lewat tulisan, itulah esensi perjuangan Kartini yang mungkin tidak kita sadari sampai hari ini. Berjuang lewat tulisan sambil tetap menjalankan fungsi sebagai wanita seutuhnya bukan hal yang buruk. Bahkan jauh lebih efektif untuk dilakukan kaum wanita saat ini. Bayangkan saja apa jadinya bila Kartini tidak pernah menulis? Tentu tak akan ada kumpulan pemikiran-pemikirannya yang dikumpulkan dalam beberapa buku yang sangat menginspirasi tokoh-tokoh kebangkitan Indonesia, dan tak ada kaum wanita Belanda yang terhenyak akan realita yang sesungguhnya dari wanita pribumi yang terjajah dan membawa perubahan pandangan terhadap wanita pribumi.

Akhirnya, pada peringatan Hari Kelahiran Kartini tahun 2008 ini, kita renungkan kembali makna perjuangan kartini, bukan dengan mendengungkan persamaan hak semata, tetapi lebih pada esensinya yaitu mengemukakan pikiran-pikiran kaum wanita yang bukan tidak mungkin akan membuka cakrawala baru bagi banyak orang dalam beroleh kemajuan bersama tanpa harus mengedepankan isu gender semata.

Selamat hari Kartini, berkarya, Berekspresi dan Menulis untuk kemajuan dunia.

Somewhere, 21 April 2008 dinihari

Sekokoh dan Selentur Bambu

Hujan masih menghiasi langit Sungguminasa sore itu dan sesekali petir juga menggelegar mengejutkan semua orang yang harap-harap cemas menanti hujan reda agar dapat melakukan perjalanan menuju Parang Banoa. Menjelang Ashar akhirnya hujan benar-benar berhenti tercurah dari langit, kami ber-sepuluh memasuki mobil masing-masing dan bersiap melakukan perjalanan akhir pekan. Mulut saya seolah terkunci, bukan karena sariawan sedang menghiasi mulut dan gusi, melainkan karena saya tidak mengenal orang-orang yang bersama saya saat ini. Yang saya tahu hanya Pak Hasyim, dan Ibu Sohra, Seorang Mahasiswa S3 Bidang Lingkungan Hidup yang sedang melakukan penelitian tentang cacing tanah. Senang rasanya bisa berada diantara mereka, saya banyak belajar mengenai kearifan-kearifan lokal yang kadang dilupakan orang seperti saya ini. Mobil meninggalkan kota Sungguminasa melewati jembatan kembara yang menjadi icon Kabupaten Gowa, kami memasuki Kecamatan Pallangga menuju Perkampungan Parang Banoa. Sebenarnya, kalau saja tidak ada sungai Je’ne Berang yang melintasi kabupaten gowa, Parang Banoa ini letaknya hanya 1-2 kilometer di belakang kantor saya, ada jalan pintas dan kemudian disambung dengan perahu untuk memasuki Parang Banoa seperti perjalanan yang pernah kami lakukan, tetapi karena kali ini cuaca tidak bersahabat dan arus sungai agak meningkat, kami semua lebih memilih menggunakan mobil. Sepanjang jalan saya hanya sibuk dengan pikiran saya sendiri, memandang persawahan yang luas. Jalan yang berkelok-kelok tak sama sekali tak mampu mengganggu apa yang sedang saya pikirkan.. I Dont Care.

Keadaan berubah ketika mobil mulai memasuki perkampungan, saking ributnya orang-orang mengomentari apa yang dia lihat, saya pun turut larut dalam pembicaraan, mulai dari mengomentari pohon maja dan buahnya yang banyak tumbuh disepanjang jalan desa berlubang yang kami lewati, rumah-rumah penduduk yang masih asli berupa panggung yang terbuat dari kayu dan juga kami juga sempat melontarkan kalimat-kalimat yang mengutarakan ironisme-ironisme yang terjadi, Parang Banoa letaknya tak jauh dari Kota Makassar, namun hampir sebagian penduduknya belum menikmati fasilitas yang ada seperti perkampungan lain, kehidupan sosial penduduknya pun juga jauh tertinggal. Semakin jauh kami menjelajahi Parang Banoa, saya semakin takjub oleh keindahan alam yang masih asli di tempat yang tak jauh dari Kota Makassar yang hingar-bingar oleh kesibukan orang sekedar untuk mengumpulkan kepingan-kepingan rupiah. Di belakang pemukiman penduduk setempat, kami mulai memasuki hutan bambu yang sangat rapat, sungguh, tak terlukiskan keindahannya, sesekali kami medapati pohon besar yang tumbuh menjulang disela-sela pohon bambu. Semakin jauh menyusuri hutan bambu ini, saya menjadi tahu, bahwa hutan bambu ini berada persis di tepi sungai Je’ne Berang. Bila sepanjang perjalanan yang pernah saya lakukan kearah malino, saya mendapati hutan yang gundul, tetapi di Parang Banoa justru sebaliknya, hutan bambu yang rimbun menyejukkan mata dan batin saya setelah seminggu energi dan emosi terkuras di tempat kerja.

Pemandangan yang saya temui di Parang Banoa memiliki kesamaan dengan pemandangan yang ada di Lengkong Sari. Perkampungan kecil di Kabupaten Magelang yang menjadi kampung yang terisolir oleh adanya aliran Sungai Blongkeng dan adanya sebuah bukit yang mengakibatkan untuk menjangkau perkampungan tersebut bila berjalan kaki bisa mengambil jalan pintas menyeberangi sungai dari arah Kota Muntilan, namun jika menggunakan mobil, harus berjalan memutar mengitari Bukit Gunung Sari dan melewati persawahan yang luas, dan jika mengendarai kendaraan roda dua bisa melewati jalanan sempit yang dibuat masyarakat dengan memotong perbukitan. Kemiripan yang nampak jelas adalah pada penduduknya yang rata-rata masih menempati rumah-rumah tradisional dan masing-masing perkampungan tersebut memiliki hutan yang didominasi oleh tanaman bambu. Sepanjang perjalanan saya di beberapa daerah di pulau jawa, dan pengamatan sehari-hari saya di beberapa kawasan pegunungan dan perbukitan, tanaman bambu hampir mendominasi kawasan tepi sungai dan juga kawasan-kawasan di kaki bukit dan kaki gunung. Yang paling mengesankan adalah populasi tanaman bambu di kaki Gunung Merapi, dari penjuru manapun kita mendekati puncak merapi, selalu saja kita akan menemui pohon bambu. Dari arah Cangkringan, Turi, Magelang bahkan Boyolali.

Masa kecil saya-pun tak lepas dengan benda-benda yang terbuat dari bambu ini. Saya pribadi mempunyai kehidupan yang tak pernah lepas dari bambu. Masa kecil saya pernah saya lewatkan di sebuah perkampungan yang masih sangat sepi pada waktu itu, dimana rumah saya yang pertama adalah rumah beralas tanah dengan dinding dari bambu basah yang dianyam oleh ayah dan kakek. Ketika anyaman bambu mengering, dinding rumah saya tak lebih hanya sekedar pengukuh bahwa ada sebuah bangunan yang berisi orang, pada malam hari, udara dingin Lereng Merapi begitu leluasa menerobos masuk dan membuat saya yang kala itu masih balita, ibu dan ayah harus merapatkan kain batik yang menutupi tubuh. Seiring berjalannya waktu dan sejalan dengan petualangan kecil yang pernah saya lewati hingga saya berada di daratan Sulawesi saat ini dan mengukir kembali kenangan pohon bambu di Parang Banoa, pohon bambu tak hanya menjadi bahan untuk sekedar membuat ajir tanaman, dinding rumah, atau kayu bakar. Keberadaan pohon bambu telah menjadi bagian dimana saya dapat belajar dan memaknai hidup ini. Di masa kecil saya tinggal di sebuah kebun luas yang diberikan kakek kepada ayah, sebuah kebun ditepi sungai. Bagian kebun yang merupakan sisi sebuah sungai kecil sering sekali longsor akibat tanahnya terbawa arus sungai. Kami sekeluarga tak memiliki cukup uang untuk membeli batu dan semen untuk membuat tanggul yang cukup kuat, jika sudah begini, ayah akan memotong tanaman bambu legi (pring legi) kemudian ditancapkan di tebing sungai, dan antar patok satu dengan patok lain dengan jalinan tali yang terbuat dari bambu apus untuk menahan tanah agar tidak terus terbawa arus sungai. Selama beberapa bulan, patok-patok bambu itu tetap berwarna hijau, sebelum dari buku-bukunya muncul tunas baru. Selama berbulan-bulan patok bambu itu bersemedi..tetapi di bagian bawah.. dibagian buku-buku yang tertanam di tanah.. akar-akar serabut tumbuh pesat, menjalar kemana, memperkokoh posisinya di tebing sungai, membentuk jalinan yang saling merekatkan satu sama lain, diam-diam patok bambu itu menyusun kekuatan di tempat tersembunyi terlebih dahulu, kemudian baru memunculkan tunas-tunas baru dibagian atas dan memamerkan daunnya yang selalu hijau sepanjang tahun. Sadar atau tidak,patok-patok itu telah mengajarkan pada kita untuk membangun pondasi hidup yang kuat terlebih dahulu, baru kita tumbuh sesuka hati kita dan tanpa disuruhpun orang lain akan melihatnya, tak perlu menyombongkan diri. Tak Cuma patok yang menyebabkan bambu nyebar dimana-mana, tetapi terkadang orang menanam bonggol yang ada tunasnya, dan karakteristik tunas bambu juga unik, dia akan memperkuat akarnya terlebih dahulu, baru memunculkan tunasnya di atas permukaan tanah. Sebuah hasil kajian ilmiah menyebutkan bahwa tunas bambu ada yang dapat tumbuh 121 cm dalam sehari, dan pada akhirnya bambu dinobatkan sebagai tanaman yang yang mempunyai pertumbuhan tercepat di muka bumi.. wow.. fantastis bukan… ini mengajarkan bahwa bila pondasi hidup yang kita bangun cukup kuat.. kita dapat melesat secepat yang kita inginkan.

Terkadang saya kasihan kepada bambu, ia cenderung tumbuh di tempat-tempat yang sulit seperti keluarga pomaceae lainnya. Lereng gunung yang tandus, tebing tebing sungai, tapi untungnya bambu tidak punya mulut, sehingga tak sedetikpun dia mengeluhkan ketidaklayakan tempat yang ditinggalinya, bahkan ketika si bambu harus tumbuh di lahan-lahan kritis yang air saja sulit didapat.. mereka tak pernah menangis. Yang paling tragis yang pernah dialami bambu adalah di Jepang dan di Jogja (ini sepanjang pengetahuan saya lho) ketika lereng merapi luluh lantak oleh awan panas yang menyembur.. beberapa waktu kemudian, bambu-lah yang tumbuh pertama kali sehingga selalu kita jumpai di lereng merapi, dari sisi manapun bambu selalu nampak, dan ini pula yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki, bambu yang tumbuh untuk pertama kalinya sebagai tumbuhan pioner setelah beberapa waktu sebelumnya bom atom meluluhlantakkan kedua tempat tersebut. Sampai disini bambu kembali mengajarkan kita bahwa dimanapun kita berada, sesulit apapun keadaan, tak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tak ada alasan untuk berlama-lama terpendam dalam keterbatasan, karena bagaimanapun pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.

Setelah tanaman bambu tumbuh optimal, lengkap dengan ranting dan daun disekujur batangnya dan tinggi menjulang, apa yang kita lihat… ya. Daun bambu tumbuh lurus, tak ada satupun daun bambu yang sudah waktunya mekar kembali menangkup seperti daun bambu muda,dia tetap mekar lurur, sampai waktu gugur tiba dan tergantikan oleh daun-daun baru, ya.. disini daun bambu menunjukkan kesetiaan kodratnya, tetap lurus dari awal hingga akhirnya harus lepas dari batang tempat dia bertaut untuk mendapatkan asupan makanan dari akar. Tahap akhir pertumbuhan pohon bambu tumbuh menjulang dengan kehijauan sepanjang tahun, walau badai datang, angin kencang menerpa, bambu tetap tak bergeming dari tempatnya bertumpu, walau jujungnya bergerak kesana kemari mengikuti dorongan angin ia senantiasa kembali ke posisi semula …. inilah simbol tuntutan hidup yang senantiasa harus fleksibel, lentur dan mengikutia rus tanpa harus roboh tercabut dari pondasi yang menjadi pijakannya.. seperti kata Krishnamurti yang dituangkan dalam bidadari words-nya : Terus membangun pondasi akar pondasi agar kokoh, terus membangun ruas demi ruas yang ulet hingga menjulang sangat tinggi, mengikuti terpaan angin hingga tinggi tanpa melawan, namun tetap kemballi ke tempat semula, kokoh, berprinsip dan lembut.

Kemampuan bambu untuk tumbuh ditempat yang sulit menyebabkan bambu tersebar dalam area yang sangat luas dari kawasan yang terbentang diantara 50 derajad lintang utara dan 47 derajad lintang selatan. Penyebaran yang luas memungkinkan banyak sekali penggunaan bambu untuk tujuan yang berbeda, sumpit di kawasan Asia Timur seperti jepang dan korea, bahan anyaman untuk wadah, perangkap ikan, sampai alat musik dan obor penerangan, ini mengajarkan kita bahwa dimanapun kita berada, dimana bumi dipijak, senantiasa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan sekitar kita.

Begitu banyak intisari kehidupan yang dituturkan oleh bambu, begitu banyak pula perlambang-perlambang yang dibuat orang dari berbagai negara untuk mengabadikan ajaran-ajaran Tuhan lewat buku terbesar di dunia yang berjudul ALAM ini, di China, bambu sebagai simbol umur panjang, di India sebagai simbol persahabatan, di Vietnam, bambu dijadikan simbol kerja keras, optimisme kesatuan, kemampuan adaptasi. Vietnam bahkan mengabadikan pelajaran berharga dari sebatang bambu ini dengan sebuah peribahasa ” ketika bambu tua, maka tunas baru akan muncul” ini berarti bahwa bangsa Vietnam tak akan pernah binasa, ketika generasi tua mati, maka muncul generasi yang lebih muda untuk menggantikannya.

Keluhuran nilai yang ditampilkan oleh bambu ternyata tak hanya lewat pitutur-pitutur lirih yang hanya dapat dilihat dengan mata batin yang tajam, tapi juga disertai diikuti semangat tinggi seperti ketika sang bambu dipergunakan untuk senjata dalam perjuangan beberapa bangsa di asia tenggara. Pitutur-pitutur lirih itu juga disertai alunan merdu dari kulintang, seruling bambu dan angklung yang tercipta dari batang bambu yang berongga. Dan ketika kegelapan menyergap, bambu juga menyediakan tempat untuk menumpukan pelita yang biasa disebut obor oleh penggunanya, hingga tak ada lagi alasan untuk mengutuk kegelapan, nyalakan obor bambu sebagai penerang dan terus pelajari ajaran Tuhan yang tersembunyi di ALAM ini.

Perjalanan akhir minggu ini, walau singkat dan di tempat yang tak pernah saya lirik sedikitpun padahal berada didepan mata, ternyata sungguh berharga… terimakasih pada rekan-rekan satu team survey Parang Banoa, Salwangga yang pernah memberi PR untuk menulis filosofi bambu, dan Om Kariyan yang membantu mengurai filosofi bambu.